Senin, 24 Oktober 2016

Review Jurnal Teknik Sipil

Judul Jurnal     : 
Kajian Keruntuhan Industri pada Saat Proses Konstruksi
Penulis             : 
Layalia Lathifah, Wisnumurti, M. Taufik Hidayat
Link Jurnal      : 

Abstrak
Pada bagian abstrak, penulis sudah cukup detil menjelaskan mengenai latar belakang masalah penulisan jurnal tersebut. Hanya saja penulis tidak mencantumkan tujuan dilakukannya penelitian tersebut. Hal yang melatarbelakangi penulis melakukan penelitian tersebut adalah keingintahuan penulis terhadap hal-hal yang mempengaruhi keruntuhan bangunan pada saat konstruksi. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh penulis, didapatkanlah hasil bahwa penyebab  keruntuhan bangunan adalah gaya angin yang ada pada saat konstruksi mengenai struktur yang belum rampung sehingga struktur mengalami ketidakstabilan.
Hasil dan Pembahasan
Penulis membuat dua hipotesis yang memungkinkan menjadi penyebab runtuhnya bangunan saat proses konstruksi. Hipotesis tersebut antara lain adalah beban berlebih yang menyebabkan kekuatan struktur mencapai kondisi batas sehingga menimbulkan fraktur/putus atau lendutan yang besar, atau ada beban aktual yang tidak diperhitungkan dalam perencanaan.
Berdasarkan analisis dan perhitungan ulang yang telah dilakukan ternyata tidak ada kesalahan perhitungan dalam hal kuantitas bahan. Artinya, bahan yang digunakan di lapangan sudah sesuai dengan perhitungan yang telah dilakukan sebelumnya. Hipotesis kedua diterima, penyebab runtuhnya bangunan adalah karena ada beban aktual yang tidak diperhitungkan atau terjadi salah perhitungan. Bangunan yang belum rampung proses pembangunannya itu mendapatkan beban angin berlebih sehingga struktur tidak dapat menahan beban angin dan terjadilah keruntuhan pada struktur tersebut.
Kesimpulan
Pada bagian kesimpulan, penulis kurang membahas lebih lanjut mengenai penyebab keruntuhan sehingga penjelasan yang ada lebih kepada penjelasan-penjelasan umum mengenai sifat baja. Penulis hanya menjelaskan bahwa penyebab keruntuhan adalah karena adanya beban angin yang besar pada saat pembangunan sedang berjalan.
Kelebihan
-          Bahasa yang digunakan penulis mudah dipahami
-          Perhitungan yang ditampilkan pada jurnal sudah lengkap
Kekurangan
-          Kurangnya ilustrasi/gambar dari keruntuhan bangunan industri
-          Tidak adanya saran dari penulis mengenai permasalahan yang ada, sehingga pembaca tidak mengetahui hal apa yang harus dilakukan agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.


Judul Jurnal     : 
Identifikasi dan Analisis Manajemen Risiko pada Proyek Pembangunan Infrastruktur Bangunan Gedung Bertingkat
Penulis              : 
Nurlela, Heri Suprapto
Link Jurnal       :

Abstrak
Pada jurnal ini penulisan abstrak sudah lengkap yaitu terdapat latar belakang, tujuan, metode, hasil dan kesimpulan. Penulis sudah menjelaskan secara lengkap, jelas dan padat mengenai isi jurnal pada bagian ini. Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah mengenai keberhasilan suatu proyek dan kaitannya terhadap sasaran proyek (tepat biaya, tepat waktu dan tepat mutu). Menurut penulis dengan melakukan manajemen risiko diharapkan sasaran proyek yang tepat biaya, tepat waktu dan tepat mutu dalam pembangunan infrastruktur bangunan gedung bisa terwujud.
Hasil dan Pembahasan
Pada bagian ini, penulis mengidentifikasi berbagai risiko beserta hasil penilaian risiko yang mungkin terjadi pada proyek pembangunan, serta mengidentifikasi agen risiko/ penyebab risiko. Penulis dengan detil menjelaskan mengenai peringkat kejadian risiko beserta agen risiko dan pola hubungan seperti apa yang terjadi diantara keduanya. Dengan berbagai metode yang dilakukan penulis, akhirnya penulis mendapatkan hasil bahwa kejadian risiko dengan peringkat tertinggi adalah proses pengadaan sumberdaya yang terhenti dan belum adanya penjadwalan ulang. Berdasarkan seluruh kejadian risiko dan agen risiko yang telah diteliti, penulis juga membuat aksimitigasi untuk menangani kejadian-kejadian tersebut.
Kesimpulan
Penulis menjelaskan kesimpulan jurnal dengan menerangkan hubungan antara kejadian risiko, agen risiko, dan agen mitigasi untuk empat kejadian risiko dengan peringkat tertinggi.
Kelebihan
-          Penjelasan materi penelitian dalam jurnal ini sangatlah detil dan terarah.
-          Termasuk jenis penulisan yang baik karena penulis dapat memberikan solusi yang jelas untuk setiap permasalahan yang ada.
Kekurangan
-          Kurangnya korelasi antara judul dengan isi jurnal. Karena isi jurnal lebih kepada permasalahan dan solusi di proyek secara umum (tidak hanya bangunan gedung bertingkat)
-          Tidak adanya penjelasan mengenai batasan masalah penulisan jurnal.



Judul Jurnal        : 
Pengaruh Lebar Pondasi dan Jarak Lapis Geogrid ke Pondasi Terhadap Daya Dukung Tanah Pasir pada Pondasi Menerus
Penulis                 : 
Muhammad Satria Bayu Aji, Arief Rachmansyah, As’ad Munawir
Link Jurnal         : 


Abstrak
Pada bagian abstrak, penulis sudah dengan jelas menggambarkan isi jurnal secara global. Latar belakang, tujuan, metode, hasil dan kesimpulan jurnal sudah dicakup pada bagian abstrak ini. Tujuan penulis mengangkat materi ini adalah karena penulis ingin mengetahui variasi yang mempengaruhi kinerja geogrid agar dihasilkan peningkatan daya dukung tanah yang maksimal. Dibuatlah berbagai variabel bebas dalam perhitungan daya dukung tanah berupa variasi jarak geogrid ke pondasi dan variasi lebar pondasi.
Hasil dan Pembahasan
Pada bagian ini, penulis membuat perhitungan untuk mencari daya dukung tanah dan membandingkan hasilnya dengan ketiga variabel bebas yang telah dibuat sebelumnya. Selain membandingkan daya dukung tanah antarvariabel bebas, penulis juga menjelaskan mengenai perhitungan daya dukung tanah tanpa perkuatan. Penjelasan mengenai daya dukung tanah dijelaskan secara terperinci dan jelas, penulis juga melengkapi perhitungan dengan grafik yang menggambarkan hubungan antara variabel bebas dengan daya dukung tanah. Sehingga pembaca dapat dengan mudah melihat hasil perhitungan yang memiliki daya dukung tanah terbesar.
Kesimpulan
Penulis menyimpulkan bahwa semakin lebar ukuran pondasi dan semakin besar jarak dari geogrid ke pondasi maka daya dukung tanah yang dihasilkan akan semakin besar. Sehingga dalam perhitungan ini daya dukung tanah terbesar adalah saat ukuran lebar pondasi 10 cm dan jarak geogrid ke pondasi sebesar 0,75B.
Kelebihan
-          Tampilan jurnal cukup menarik karena adanya grafik di setiap perhitungan, sehingga pembaca dapat dengan mudah menyimpulkan perbandingan perhitungan yang dilakukan penulis.
Kekurangan
-          Tidak adanya contoh perhitungan, yang ada hanya tabel dengan hasil pengolahan data yang membuat jurnal kurang jelas.
-          Kurang lengkapnya jurnal karena tidak sesuai dengan tahapan perencanaan penulisan jurnal.
-          Kurangnya analisis terhadap data dan kesimpulan yang didapat dari penelitian ini. Sehingga pembaca tidak mengetahui alasan mengapa lebar pondasi tebesar dan jarak geogrid dengan  pondasi terbesar akan menghasilkan daya dukung tanah terbesar.


Minggu, 28 Juni 2015

Perubahan Setelah Mempelajari IBD


                Tak terasa beberapa minggu lagi insyaAllah saya akan menyelesaikan semester kedua di tahun pertama perkuliahan saya di Universitas Gunadarma. Sedikit flash back dari perkuliahan di semester pertama, ketika awal masuk kuliah saya sempat bingung dengan salah satu mata kuliah yang disediakan pihak kampus untuk para mahasiswanya. Ya, soft-skill ! Di semester pertama, saya mendapat mata kuliah soft-skill : Ilmu Sosial Dasar ( ISD ). Mata kuliah yang hanya ada setiap satu bulan sekali ini, cukup membuat saya bingung dengan tugas-tugasnya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan yang saya ambil di kampus ini. Namun, yang saya lakukan pada saat itu hanya mengikuti alur pembelajaran dari dosen ISD saya.

                Masuk ke semester kedua, ternyata mata kuliah soft-skill ini masih mewarnai jadwal perkuliahan saya. Akan tetapi, di semester kedua ini mata kuliah Ilmu Sosial Dasar berubah menjadi Ilmu Budaya Dasar ( IBD ). Kembali pertanyaan yang pernah saya pikirkan di semester satu muncul, “Mata kuliah macam apa lagi sih iniii ??!?” gerutu saya dalam hati. Namun, lagi lagi saya hanya mengikuti perkuliahan yang ada. Apakah kejadian di semester satu harus terulang lagi? Dimana saya hanya mengikuti kelas dan mengerjakan tugas-tugas tanpa mengetahui tujuan adanya mata kuliah ini.

                Pertemuan pertama perkuliahan Ilmu Budaya Dasar, membahas tentang apa itu Ilmu Budaya Dasar dan Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Kesusastraan. Baru dilihat dari tema bahasannya saja sudah terdengar membosankan, tapi saya tetap ‘memaksakan’ untuk memperhatikan materi yang diberikan dosen. Pertemuan-pertemuan selanjutnya, mulai membahas tentang hubungan manusia dengan kebudayaan, cinta kasih, keindahan, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, kegelisahan, dan harapan. Materi-materi bahasan tersebut ternyata mampu menarik perhatian saya terhadap mata kuliah ini. Selain itu, saya pun mulai mengerti akan tujuan adanya mata kuliah ini.

Materi yang menurut saya paling menarik adalah materi mengenai  Manusia dan Pandangan Hidup dan juga Manusia dan Harapan. Mengapa? Karena pada saat materi itu disampaikan, saya merasa ada suatu ‘cambukan’ untuk diri saya yang mengingatkan tentang tujuan hidup saya ke depan. Saya merasa, sebelum saya mempelajari Ilmu Budaya Dasar ini, saya sangat acuh terhadap tujuan hidup saya, “Saya hidup hari ini, maka saya harus memikirkan apa yang terjadi pada hari ini”. Hidup saya hanya sebatas Bernafas untuk Saat Ini. Saya tidak pernah memikirkan tentang pandangan hidup saya, tujuan hidup saya, dan juga harapan untuk hidup saya di kemudian hari. Namun sekarang, saya mulai memikirkan “Apa sih pandangan hidup saya?”, “Kenapa sih saya harus benar-benar menjaga pandangan hidup yang telah saya buat?”, dan “Apa sih harapan hidup saya kedepannya?”. Jika sebelumnya setiap harinya saya hanya bangun pagi, bersiap dan berangkat ke kampus, belajar di kelas, berbincang-bincang bersama teman-teman, pulang ke rumah, mengerjakan tugas kuliah, tidur, dan begitu seterusnya, namun sekarang ketika saya  terbangun di pagi hari, hal pertama yang saya ingat adalah apa yang harus saya lakukan hari ini, sehingga  semua cita-cita saya bisa tercapai di kemudian hari, semua keinginan saya bisa saya dapatkan, dan apa yang bisa saya lakukan untuk membuat kedua orang tua saya tersenyum karena saya pada hari ini.

Saya merasa, sebelumnya saya tidak mempunyai arah hidup, namun ketika saya mulai memikirkan tentang hal-hal tersebut, saya merasa sekarang saya berada pada sebuah  track , dimana saya harus mengikuti alur yang ada untuk mencapai goals yang telah saya buat sebelumnya. Sehingga hidup saya lebih bermakna saat ini karena saya telah memiliki tujuan hidup yang jelas dan saya akan terus berusaha untuk merealisasikan harapan-harapan hidup yang telah saya buat. Tujuan dan harapan hidup saya itu jugalah yang bisa menjaga saya untuk tetap berada pada ‘jalur’ yang ‘benar’, sehingga ketika saya mulai lupa akan kewajiban saya, catatan mengenai tujuan hidup saya lah yang dapat mengembalikan saya pada track hidup saya yang sesuai.

Minggu, 21 Juni 2015

Manusia, Harapan, dan Kewajiban


Minggu sore, seperti hari minggu yang lainnya, hari dimana saya harus kembali ke 'rumah' kedua saya dan meninggalkan rumah dimana kedua orangtua saya berada. Ketika saya sedang duduk di atas sebuah bis dengan jurusan Cikarang-Ps. Rebo, perjalanan terasa sangat membosankan. Entah apa yang sedang saya pikirkan sebelumnya, tiba-tiba bayang-bayang wajah kedua orang tua saya hadir dalam pikiran saya. Banyak sekali pertanyaan yang ‘menghantui’ perjalanan saya tadi sore. Pertanyaan pertama yang muncul daam pikiran saya adalah “ Apa sih yang udah saya lakuin buat bikin orangtua bahagia?”,”Mau sampai kapan gini-gini­ aja ke orangtua?” dan masih banyaakk lagi.

Keinginan kuat untuk membahagiakan orangtua tiba-tiba hadir dengan hebatnya. Perasaan itu semakin kuat dan semakin mewarnai pemikiran saya sore tadi. “Kapan saya bisa melihat air mata kebahagiaan mengalir di pipi kedua orangtua saya?”, “ Kapan orangtua saya bercerita kepada rekan-rekannya bahwa mereka bangga memiliki saya?” ....”Kapan? Kapan? Kapann???”. Tak ada hal lain yang harus saya lakukan saat ini selain belajar dengan giat dan melihat kesuksesan di depan mata saya. SAYA HARUS MENJADI ORANG YANG SUKSES.

Harapan-harapan itulah yang membangunkan “tidur siang” saya. Tidur siang yang mengajak saya pada kegiatan-kegiatan tak beguna, mengajak saya untuk membuang waktu saya dengan percuma, mengajak saya melupakan pengorbanan orangtua yang telah banting tulang mencari uang untuk biaya sekolah saya yang tidak sedikit itu.

Saya sadar dengan kewajiban yang harus saya lakukan saat ini. Jika orangtua saya telah memenuhi kewajibannya untuk membiayai sekolah saya, maka ini saatnya untuk saya melakukan kewajiban saya sebagai anak. Saya harus kuliah dengan rajin, saya harus lulus tepat waktu, saya harus bekerja demi membahagiakan kedua orangtua saya. Walaupun, mungkin hingga tetesan darah terakhir pun saya tidak akan pernah bisa membalas jasa kedua orangtua saya. Namun, mulai hari ini saya bertekad untuk selalu berusaha membuat mereka bangga dan bahagia karena saya.

Senin, 15 Juni 2015

Manusia dan Pandangan Hidup


Setiap manusia di dunia ini pasti memiliki pandangan hidup masing-masing. Pandangan hidup berguna sebagai pedoman seseorang dalam menjalani kehidupannya. Saya pun memiliki pandangan hidup, pandangan hidup saya yang pertama adalah selalu sayang dan hormat  kepada orang tua. Saya sadar dan percaya bahwa perintah Allah SWT tidaklah pernah salah. Nabi Muhammad saw juga selalu mengajarkan kita sebagai umatnya untuk selalu menghormati orang tua kita terutama kepada Ibu. Jika kita dapat menyayangi dan menghormati kedua orang tua kita niscaya dengan mudah kedua orang tua kita akan selalu mendo’akan setiap perjalanan hidup kita. Do’a dari orang tua merupakan do’a yang paling cepat diijabah oleh Allah SWT. Itu berarti insyaAllah perjalanan hidup kita akan jauh dari penyimpangan hidup.

                Tidak hanya itu, jika kita dapat menyayangi dan menghormati kedua orang tua kita sepenuh hati, maka orang tua kita pun akan meridhoi setiap keputusan yang kita ambil. Bukankah ridho Ibu merupakan ridho Allah SWT ? Dapat kita bayangkan jika kita sudah mendapat ridho dari Ibu yang otomatis juga ridho dari Allah SWT, betapa bahagia dan tentramnya hidup kita. Saya pun sangat yakin jika ridho orang tua merupakan faktor penentu yang paling utama dalam keberhasilan seorang anak. Maka dari itu saya akan berusaha sekuat tenaga untuk selalu mendapatkan ridho dari kedua orang tua saya. Orang tua merupakan segala-galanya bagi saya, jika ada yang seseorang yang mengatakan bahwa saya harus membangkang perintah kedua orang tua saya, maka dengan tegas dan pasti saya menjawab “TIDAK” dan perlahan menjauhi orang tersebut. Karena saya yakin jika ada orang yang tidak dapat menghormati kedudukan orang tua,  maka orang tersebut bukanlah orang yang tepat untuk dijadikan teman.

                Pandangan hidup kedua saya adalah mengamalkan setiap ilmu yang saya miliki kepada orang sekitar. Saya selalu diajarkan untuk baik kepada lingkungan sekitar, tidak pelit atas ilmu yang saya miliki walaupun ilmu itu hanya sekecil biji jagung, saya harus mengamalkan dengan ikhlas. Saya juga diajarkan bahwa setiap ilmu yang kita miliki tidaklah memiliki manfaat jika kita tidak mengamalkan kepada orang sekitar. Allah SWT pun akan dengan mudah mencabut segala ilmu yang kita miliki jika kita tidak dapat mempergunakan ilmu itu sebagai amal kebajikan.

                Saya juga yakin kalau ilmu yang kita amalkan kepada orang sekitar, maka pahala pun akan terus mengalir untuk diri kita jika orang tersebut dapat mengamalkan kembali ilmu yang telah kita amalkan kepada orang itu. Jika ada yang berpikiran bahwa dengan saya memberikan sedikit ilmu sya kepada orang di sekitar saya, maka bisa jadi suatu saat orang itu lebih pandai dari kita dan kita akan kalah bersaing dengan orang itu. Namun, yang ada di pikiran saya hanya Allah SWT yang mengetahui balasan yang setimpal untuk orang yang suka mengamalkan ilmu kepada orang sekitar, dan tidak pernah ada amalan sholeh yang dapat membuat kita merugi, bukan?

Minggu, 24 Mei 2015

Manusia dan Keadilan : Keadilan Distributif

Pengertian Keadilan

Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah diantara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dak terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem itu menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama. Kalau tidak sama,maka masing-masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelanggaran terhadap proporsi tersebut berarti ketidak-adilan.


Keadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal.
Salah satu jenis keadilan adalah Keadilan Distributif.

KEADILAN DISTRIBUTIF

                Ariestoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama (justice is done when equals are treated equally). Sebagai contoh, Ali bekerja 10 tahun dan Budi bekerja 5 tahun. Pada waktu diberikan hadiah harus dibedakan antara Ali dan Budi, yaitu perbedaan sesuai dengan lamanya bekerja. Andaikata Ali menerima Rp 100.000 maka Budi harus menerima Rp 50.000. Akan tetapi bila besar hadiah Ali dan Budi sama, justru hal tersebut tidak adil.


Daftar Pustaka  : Nugroho, Widyo dan Achmad Muchji(1996).MKDU Ilmu Budaya Dasar.Jakarta:Gunadarma

Senin, 11 Mei 2015

Bahagiakah Mereka?

Tema     : Manusia dan Penderitaan

                Akhir-akhir ini sering kita lihat dan dengar berita tentang para petinggi negara kita yang melakukan tindak pidana korupsi. Mereka dengan “keahliannya” itu menguras uang negara yang notabene merupakan uang rakyat. Mereka mengambil uang yang jelas-jelas bukan hak mereka. Kebanyakan dari mereka yang melakukan hal tersebut,mengaku karena faktor “desakkan lingkungan”, mungkin sebagian dari mereka sebenarnya tidak ingin melakukan hal tersebut, namun lingkungan dan kawan kerja mereka lah yang menyebabkan mereka ikut dalam lingkaran kemaksiatan tersebut. Kawan kerja yang mendapat “jatah” dari lawan bisnisnya mungkin juga merasa takut jika harus menerima uang haram itu seorang diri, untuk itu biasanya mereka membagikan “uang jatah” tersebut ke rekan kerja mereka yang mungkin saja teah mengetahui perilaku buruk mereka. Bisa jadi mereka membagikan uang tersebut juga sebagai “uang tutup mulut” agar tindakan mereka bisa aman.

                Tak sedikit pula dari mereka yang mengaku melakukan tindakan tersebut karena dorongan sang istri. Istri yang selalu menuntut lebih dari suaminya, istri yang selalu ingin hidup mewah, istri yang menuntut tas branded, mobil mewah, emas, berlian, jam tangan mewah, dan lain sebagainya. Tak ada yang dapat dilakukan sang suami selain mengambil “jalan pintas” untuk memenuhi seluruh tuntutan istrinya tersebut.




                Mungkin pada awalnya mereka merasa takut akan akibat yang akan mereka tanggung nantinya. Namun pada akhirnya,  mereka mulai terbiasa dengan apa yang mereka lakukan.

                Waktu demi waktu, kebiasaan ini berubah menjadi budaya yang mengakar pada setiap individu. Mungkin bagi mereka tindakan tersebut adalah hal yang lumrah dilakukan. Mereka dengan santainya memberikan uang haram tersebut kepada istri mereka untuk keperluan rumah tangga. Istri dan anak mereka pun secara tidak langsung telah “makan uang haram”, anak mereka sekolah dengan dibayar menggunakan uang haram, dan juga kegiatan lain yang sudah pasti menggunakan uang haram itu juga. Mereka telah menafkahi keluarga mereka dengan uang haram.

                Mereka bahagia, mereka senang, mereka hidup serba berkecukupan. Mereka tidak pernah bingung-bingung jika ingin membeli barang yang mereka inginkan. Uang banyak dan harta berlimpah sudah mereka miliki. Namun, dibalik seluruh kesenangan tersebut ada satu hal yang tidak mereka miliki, yakni kebahagiaan batin. Mereka tidak akan memiliki kebahagiaan batin, mereka akan selalu merasa was-was akan waktu yang akan menjemput mereka ke dalam sel tahanan. Setiap hari mereka akan hidup dalam ketakutan, ketakutan jika suatu saat palu sudah mengetuk meja pengadilan dan mengaharuskan mereka tinggal di “hotel prodeo”. Mereka bahagia, namun sebenarnya mereka menderita       

Senin, 04 Mei 2015

Estetika


Tema     : Manusia dan Keindahan


                Seperti artikel saya yang sebelumnya, Manusia dan Kebudayaan, disebutkan bahwa manusia sangat erat hubungannya dengan kebudayaan. Sedangkan kebudayaan itu sendiri erat kaitannya dengan seni dan suatu seni harus memiliki sisi estetika atau keindahan. Keindahan berarti sesuatu yang bersifat relatif, karena setiap orang memiliki penilaian terhadap keindahan yang berbeda-beda.

                Manusia melakukan berbagai aktifitas selama hidupnya. Manusia, hidup bagaikan menulis cerita di atas sebuah kertas. Setiap manusia pasti memiliki cerita yang berbeda-beda tentang hidupnya. Setiap perasaan, pikiran, kejadian, bisa menjadi cerita baru pada lembar kehidupannya. Setiap manusia pasti mencintai keindahan. Tanpa keindahan pandangan manusia terhadap hidup akan sangat flat / datar.


                Keindahan juga dapat mewarnai hidup seorang manusia. Tak dapat dielakkan lagi, bahwa keindahan merupan faktor utama bagi manusia dalam menilai sesuatu, tidak hanya keindahan yang dapat dirasakan melalui indra penglihatan namun juga yang dapat dirasakan melalui indra pendengaran. Karena keindahan tidak selalu identik dengan visual semata, melainkan lantunan nada juga merupakan keindahan.

                Jadi, pada hakikatnya manusia merupaan makhluk hidup yang  mencintai keindahan, sehingga manusia tidak dapat hidup tanpa faktor keindahan dalam hidupnya. Manusia dengan daya khayalnya yang tinggi dapat menciptakan suatu seni dengan nilai keindahan yang tinggi. Tak hanya dari daya khayal manusia, seni yang berdasarkan pengalaman pribadi juga dapat dibuat lebih menaik.