Tampilkan postingan dengan label Tugas Softskill. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Softskill. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2015

Perubahan Setelah Mempelajari IBD


                Tak terasa beberapa minggu lagi insyaAllah saya akan menyelesaikan semester kedua di tahun pertama perkuliahan saya di Universitas Gunadarma. Sedikit flash back dari perkuliahan di semester pertama, ketika awal masuk kuliah saya sempat bingung dengan salah satu mata kuliah yang disediakan pihak kampus untuk para mahasiswanya. Ya, soft-skill ! Di semester pertama, saya mendapat mata kuliah soft-skill : Ilmu Sosial Dasar ( ISD ). Mata kuliah yang hanya ada setiap satu bulan sekali ini, cukup membuat saya bingung dengan tugas-tugasnya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan jurusan yang saya ambil di kampus ini. Namun, yang saya lakukan pada saat itu hanya mengikuti alur pembelajaran dari dosen ISD saya.

                Masuk ke semester kedua, ternyata mata kuliah soft-skill ini masih mewarnai jadwal perkuliahan saya. Akan tetapi, di semester kedua ini mata kuliah Ilmu Sosial Dasar berubah menjadi Ilmu Budaya Dasar ( IBD ). Kembali pertanyaan yang pernah saya pikirkan di semester satu muncul, “Mata kuliah macam apa lagi sih iniii ??!?” gerutu saya dalam hati. Namun, lagi lagi saya hanya mengikuti perkuliahan yang ada. Apakah kejadian di semester satu harus terulang lagi? Dimana saya hanya mengikuti kelas dan mengerjakan tugas-tugas tanpa mengetahui tujuan adanya mata kuliah ini.

                Pertemuan pertama perkuliahan Ilmu Budaya Dasar, membahas tentang apa itu Ilmu Budaya Dasar dan Konsepsi Ilmu Budaya Dasar dalam Kesusastraan. Baru dilihat dari tema bahasannya saja sudah terdengar membosankan, tapi saya tetap ‘memaksakan’ untuk memperhatikan materi yang diberikan dosen. Pertemuan-pertemuan selanjutnya, mulai membahas tentang hubungan manusia dengan kebudayaan, cinta kasih, keindahan, penderitaan, keadilan, pandangan hidup, tanggung jawab, kegelisahan, dan harapan. Materi-materi bahasan tersebut ternyata mampu menarik perhatian saya terhadap mata kuliah ini. Selain itu, saya pun mulai mengerti akan tujuan adanya mata kuliah ini.

Materi yang menurut saya paling menarik adalah materi mengenai  Manusia dan Pandangan Hidup dan juga Manusia dan Harapan. Mengapa? Karena pada saat materi itu disampaikan, saya merasa ada suatu ‘cambukan’ untuk diri saya yang mengingatkan tentang tujuan hidup saya ke depan. Saya merasa, sebelum saya mempelajari Ilmu Budaya Dasar ini, saya sangat acuh terhadap tujuan hidup saya, “Saya hidup hari ini, maka saya harus memikirkan apa yang terjadi pada hari ini”. Hidup saya hanya sebatas Bernafas untuk Saat Ini. Saya tidak pernah memikirkan tentang pandangan hidup saya, tujuan hidup saya, dan juga harapan untuk hidup saya di kemudian hari. Namun sekarang, saya mulai memikirkan “Apa sih pandangan hidup saya?”, “Kenapa sih saya harus benar-benar menjaga pandangan hidup yang telah saya buat?”, dan “Apa sih harapan hidup saya kedepannya?”. Jika sebelumnya setiap harinya saya hanya bangun pagi, bersiap dan berangkat ke kampus, belajar di kelas, berbincang-bincang bersama teman-teman, pulang ke rumah, mengerjakan tugas kuliah, tidur, dan begitu seterusnya, namun sekarang ketika saya  terbangun di pagi hari, hal pertama yang saya ingat adalah apa yang harus saya lakukan hari ini, sehingga  semua cita-cita saya bisa tercapai di kemudian hari, semua keinginan saya bisa saya dapatkan, dan apa yang bisa saya lakukan untuk membuat kedua orang tua saya tersenyum karena saya pada hari ini.

Saya merasa, sebelumnya saya tidak mempunyai arah hidup, namun ketika saya mulai memikirkan tentang hal-hal tersebut, saya merasa sekarang saya berada pada sebuah  track , dimana saya harus mengikuti alur yang ada untuk mencapai goals yang telah saya buat sebelumnya. Sehingga hidup saya lebih bermakna saat ini karena saya telah memiliki tujuan hidup yang jelas dan saya akan terus berusaha untuk merealisasikan harapan-harapan hidup yang telah saya buat. Tujuan dan harapan hidup saya itu jugalah yang bisa menjaga saya untuk tetap berada pada ‘jalur’ yang ‘benar’, sehingga ketika saya mulai lupa akan kewajiban saya, catatan mengenai tujuan hidup saya lah yang dapat mengembalikan saya pada track hidup saya yang sesuai.

Minggu, 21 Juni 2015

Manusia, Harapan, dan Kewajiban


Minggu sore, seperti hari minggu yang lainnya, hari dimana saya harus kembali ke 'rumah' kedua saya dan meninggalkan rumah dimana kedua orangtua saya berada. Ketika saya sedang duduk di atas sebuah bis dengan jurusan Cikarang-Ps. Rebo, perjalanan terasa sangat membosankan. Entah apa yang sedang saya pikirkan sebelumnya, tiba-tiba bayang-bayang wajah kedua orang tua saya hadir dalam pikiran saya. Banyak sekali pertanyaan yang ‘menghantui’ perjalanan saya tadi sore. Pertanyaan pertama yang muncul daam pikiran saya adalah “ Apa sih yang udah saya lakuin buat bikin orangtua bahagia?”,”Mau sampai kapan gini-gini­ aja ke orangtua?” dan masih banyaakk lagi.

Keinginan kuat untuk membahagiakan orangtua tiba-tiba hadir dengan hebatnya. Perasaan itu semakin kuat dan semakin mewarnai pemikiran saya sore tadi. “Kapan saya bisa melihat air mata kebahagiaan mengalir di pipi kedua orangtua saya?”, “ Kapan orangtua saya bercerita kepada rekan-rekannya bahwa mereka bangga memiliki saya?” ....”Kapan? Kapan? Kapann???”. Tak ada hal lain yang harus saya lakukan saat ini selain belajar dengan giat dan melihat kesuksesan di depan mata saya. SAYA HARUS MENJADI ORANG YANG SUKSES.

Harapan-harapan itulah yang membangunkan “tidur siang” saya. Tidur siang yang mengajak saya pada kegiatan-kegiatan tak beguna, mengajak saya untuk membuang waktu saya dengan percuma, mengajak saya melupakan pengorbanan orangtua yang telah banting tulang mencari uang untuk biaya sekolah saya yang tidak sedikit itu.

Saya sadar dengan kewajiban yang harus saya lakukan saat ini. Jika orangtua saya telah memenuhi kewajibannya untuk membiayai sekolah saya, maka ini saatnya untuk saya melakukan kewajiban saya sebagai anak. Saya harus kuliah dengan rajin, saya harus lulus tepat waktu, saya harus bekerja demi membahagiakan kedua orangtua saya. Walaupun, mungkin hingga tetesan darah terakhir pun saya tidak akan pernah bisa membalas jasa kedua orangtua saya. Namun, mulai hari ini saya bertekad untuk selalu berusaha membuat mereka bangga dan bahagia karena saya.

Senin, 15 Juni 2015

Manusia dan Pandangan Hidup


Setiap manusia di dunia ini pasti memiliki pandangan hidup masing-masing. Pandangan hidup berguna sebagai pedoman seseorang dalam menjalani kehidupannya. Saya pun memiliki pandangan hidup, pandangan hidup saya yang pertama adalah selalu sayang dan hormat  kepada orang tua. Saya sadar dan percaya bahwa perintah Allah SWT tidaklah pernah salah. Nabi Muhammad saw juga selalu mengajarkan kita sebagai umatnya untuk selalu menghormati orang tua kita terutama kepada Ibu. Jika kita dapat menyayangi dan menghormati kedua orang tua kita niscaya dengan mudah kedua orang tua kita akan selalu mendo’akan setiap perjalanan hidup kita. Do’a dari orang tua merupakan do’a yang paling cepat diijabah oleh Allah SWT. Itu berarti insyaAllah perjalanan hidup kita akan jauh dari penyimpangan hidup.

                Tidak hanya itu, jika kita dapat menyayangi dan menghormati kedua orang tua kita sepenuh hati, maka orang tua kita pun akan meridhoi setiap keputusan yang kita ambil. Bukankah ridho Ibu merupakan ridho Allah SWT ? Dapat kita bayangkan jika kita sudah mendapat ridho dari Ibu yang otomatis juga ridho dari Allah SWT, betapa bahagia dan tentramnya hidup kita. Saya pun sangat yakin jika ridho orang tua merupakan faktor penentu yang paling utama dalam keberhasilan seorang anak. Maka dari itu saya akan berusaha sekuat tenaga untuk selalu mendapatkan ridho dari kedua orang tua saya. Orang tua merupakan segala-galanya bagi saya, jika ada yang seseorang yang mengatakan bahwa saya harus membangkang perintah kedua orang tua saya, maka dengan tegas dan pasti saya menjawab “TIDAK” dan perlahan menjauhi orang tersebut. Karena saya yakin jika ada orang yang tidak dapat menghormati kedudukan orang tua,  maka orang tersebut bukanlah orang yang tepat untuk dijadikan teman.

                Pandangan hidup kedua saya adalah mengamalkan setiap ilmu yang saya miliki kepada orang sekitar. Saya selalu diajarkan untuk baik kepada lingkungan sekitar, tidak pelit atas ilmu yang saya miliki walaupun ilmu itu hanya sekecil biji jagung, saya harus mengamalkan dengan ikhlas. Saya juga diajarkan bahwa setiap ilmu yang kita miliki tidaklah memiliki manfaat jika kita tidak mengamalkan kepada orang sekitar. Allah SWT pun akan dengan mudah mencabut segala ilmu yang kita miliki jika kita tidak dapat mempergunakan ilmu itu sebagai amal kebajikan.

                Saya juga yakin kalau ilmu yang kita amalkan kepada orang sekitar, maka pahala pun akan terus mengalir untuk diri kita jika orang tersebut dapat mengamalkan kembali ilmu yang telah kita amalkan kepada orang itu. Jika ada yang berpikiran bahwa dengan saya memberikan sedikit ilmu sya kepada orang di sekitar saya, maka bisa jadi suatu saat orang itu lebih pandai dari kita dan kita akan kalah bersaing dengan orang itu. Namun, yang ada di pikiran saya hanya Allah SWT yang mengetahui balasan yang setimpal untuk orang yang suka mengamalkan ilmu kepada orang sekitar, dan tidak pernah ada amalan sholeh yang dapat membuat kita merugi, bukan?

Senin, 11 Mei 2015

Bahagiakah Mereka?

Tema     : Manusia dan Penderitaan

                Akhir-akhir ini sering kita lihat dan dengar berita tentang para petinggi negara kita yang melakukan tindak pidana korupsi. Mereka dengan “keahliannya” itu menguras uang negara yang notabene merupakan uang rakyat. Mereka mengambil uang yang jelas-jelas bukan hak mereka. Kebanyakan dari mereka yang melakukan hal tersebut,mengaku karena faktor “desakkan lingkungan”, mungkin sebagian dari mereka sebenarnya tidak ingin melakukan hal tersebut, namun lingkungan dan kawan kerja mereka lah yang menyebabkan mereka ikut dalam lingkaran kemaksiatan tersebut. Kawan kerja yang mendapat “jatah” dari lawan bisnisnya mungkin juga merasa takut jika harus menerima uang haram itu seorang diri, untuk itu biasanya mereka membagikan “uang jatah” tersebut ke rekan kerja mereka yang mungkin saja teah mengetahui perilaku buruk mereka. Bisa jadi mereka membagikan uang tersebut juga sebagai “uang tutup mulut” agar tindakan mereka bisa aman.

                Tak sedikit pula dari mereka yang mengaku melakukan tindakan tersebut karena dorongan sang istri. Istri yang selalu menuntut lebih dari suaminya, istri yang selalu ingin hidup mewah, istri yang menuntut tas branded, mobil mewah, emas, berlian, jam tangan mewah, dan lain sebagainya. Tak ada yang dapat dilakukan sang suami selain mengambil “jalan pintas” untuk memenuhi seluruh tuntutan istrinya tersebut.




                Mungkin pada awalnya mereka merasa takut akan akibat yang akan mereka tanggung nantinya. Namun pada akhirnya,  mereka mulai terbiasa dengan apa yang mereka lakukan.

                Waktu demi waktu, kebiasaan ini berubah menjadi budaya yang mengakar pada setiap individu. Mungkin bagi mereka tindakan tersebut adalah hal yang lumrah dilakukan. Mereka dengan santainya memberikan uang haram tersebut kepada istri mereka untuk keperluan rumah tangga. Istri dan anak mereka pun secara tidak langsung telah “makan uang haram”, anak mereka sekolah dengan dibayar menggunakan uang haram, dan juga kegiatan lain yang sudah pasti menggunakan uang haram itu juga. Mereka telah menafkahi keluarga mereka dengan uang haram.

                Mereka bahagia, mereka senang, mereka hidup serba berkecukupan. Mereka tidak pernah bingung-bingung jika ingin membeli barang yang mereka inginkan. Uang banyak dan harta berlimpah sudah mereka miliki. Namun, dibalik seluruh kesenangan tersebut ada satu hal yang tidak mereka miliki, yakni kebahagiaan batin. Mereka tidak akan memiliki kebahagiaan batin, mereka akan selalu merasa was-was akan waktu yang akan menjemput mereka ke dalam sel tahanan. Setiap hari mereka akan hidup dalam ketakutan, ketakutan jika suatu saat palu sudah mengetuk meja pengadilan dan mengaharuskan mereka tinggal di “hotel prodeo”. Mereka bahagia, namun sebenarnya mereka menderita       

Senin, 04 Mei 2015

Estetika


Tema     : Manusia dan Keindahan


                Seperti artikel saya yang sebelumnya, Manusia dan Kebudayaan, disebutkan bahwa manusia sangat erat hubungannya dengan kebudayaan. Sedangkan kebudayaan itu sendiri erat kaitannya dengan seni dan suatu seni harus memiliki sisi estetika atau keindahan. Keindahan berarti sesuatu yang bersifat relatif, karena setiap orang memiliki penilaian terhadap keindahan yang berbeda-beda.

                Manusia melakukan berbagai aktifitas selama hidupnya. Manusia, hidup bagaikan menulis cerita di atas sebuah kertas. Setiap manusia pasti memiliki cerita yang berbeda-beda tentang hidupnya. Setiap perasaan, pikiran, kejadian, bisa menjadi cerita baru pada lembar kehidupannya. Setiap manusia pasti mencintai keindahan. Tanpa keindahan pandangan manusia terhadap hidup akan sangat flat / datar.


                Keindahan juga dapat mewarnai hidup seorang manusia. Tak dapat dielakkan lagi, bahwa keindahan merupan faktor utama bagi manusia dalam menilai sesuatu, tidak hanya keindahan yang dapat dirasakan melalui indra penglihatan namun juga yang dapat dirasakan melalui indra pendengaran. Karena keindahan tidak selalu identik dengan visual semata, melainkan lantunan nada juga merupakan keindahan.

                Jadi, pada hakikatnya manusia merupaan makhluk hidup yang  mencintai keindahan, sehingga manusia tidak dapat hidup tanpa faktor keindahan dalam hidupnya. Manusia dengan daya khayalnya yang tinggi dapat menciptakan suatu seni dengan nilai keindahan yang tinggi. Tak hanya dari daya khayal manusia, seni yang berdasarkan pengalaman pribadi juga dapat dibuat lebih menaik.

Senin, 20 April 2015

Inilah Caraku Berkomunikasi dengan Tuhanku :)



Manusia pada hakikatnya harus menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhiratnya. Seluruh aspek kehidupan pun harus diseimbangkan, saya sebagai umat muslim diajarkan untuk selalu berhubungan baik pada Allah SWT dan berbuat baik pada sesama umat manusia. Tidak hanya umat beragama muslim  yang memiliki ajaran seperti itu, semua umat beraga pasti memiliki ajaran agamanya masing-masing mengenai hubungan manusia dengan Tuhan nya dan hubungan antarmanusia itu sendiri.

Hubungan manusia dengan Tuhannya dilakukan sesuai ajaran agama masing-masing individu. Karena setiap manusia memiliki kepercayaan yang berbeda-beda maka cara mereka berhubungan dengan Tuhannya pun akan beragam. Sebagai manusia yang beragama islam, saya memiliki berbagai cara untuk berhubungan dengan Tuhan saya. Sholat merupakan cara utama saya untuk berhubungan dengan Tuhan saya. Dalam cerita agama yang saya dapatkan semasa saya duduk di bangku sekolah dasar, dulu terdapat dialog yang cukup panjang antara Tuhan ku dengan Nabi Muhammad saw, inti dari dialog itu adalah Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad untuk menyuruh umatnya melakukan sholat 80 waktu dalam satu hari, namun Nabi Muhammad merasa keberatan dan dengan dialog yang cukup panjang akhirnya didapatkanlah keputusan untuk melakukan sholat sebanyak 5 waktu dalam sehari.




Dalam sholat itulah saya dapat berhubungan dengan Tuhan saya, dalam sholat saya dapat menyebutkan puluhan kalimat pujian terhadap Tuhan saya, dalam sholat saya dapat menceritakan apapun yang ingin saya ceritakan pada Tuhan saya. Ini lah cara saya untuk berhubungan langsung dengan Tuhan saya. Dalam 5 x @5-10 menit  inilah saya harus mempergunakan “Quality Time” saya dengan Tuhan saya J

Namun, apabila ingin berhubungan yang lebih dekat lagi dengan Allah SWT, kita dapat melakukan sholat malam (Tahajud) di sepertiga malam terakhir. Pada saat inilah tak ada dinding pemisah antara hamba dengan Tuhannya. Dan sesungguhnya bagi hamba yang sering melakukan sholat malam, maka wajahnya akan bercahaya pada Hari Akhir kelak.

Senin, 13 April 2015

TIGA UNSUR CINTA MENURUT SARWONO


Pengertian tentang cinta dikemukakan juga oleh Dr. Sarlito W. Sarwono. Dikatakannya bahwa cinta memiliki tiga unsur yaitu keterikatan, keintiman, dan kemesraan :
1.       Keterikatan
Yang dimaksud dengan keterikatan adalah adanya perasaan untuk hanya bersama dia, segala prioritas untuk dia, tidak mau pergi bersama orang lain kecuali dengan dia.
2.       Keintiman
Untuk yang kedua adalah keintiman, yaitu adanya kebiasaan-kebiasaan dan tingkah laku yang menunjukkan bahwa antara anda dengan dia sudah tidak ada jarak lagi. Panggilan-panggilan formal seperti Bapak,Ibu, saudara digantikan dengan sekedar memanggil nama atau sebutan, sayang dan sebagainya. Makan minum dari satu piring-cangkir tanpa rasa risih, pinjam meminjam baju, saling memakai uang tanpa rasa berhutang, tidak saling menyimpan rahasia dan lain-lainnya.
3.       Kemesraan
Unsur ketiga adalah kemesraan, yaitu adanya rasa ingin membelai atau dibelai, rasa kangen kalau jauh atau lama tidak bertemu, adanya ucapan-ucapan yang mengungkapkan rasa sayang dan seterusnya. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut yang menunjukkan segitiga cinta.


                                                   
 
 



Daftar Pustaka  : Nugroho, Widyo dan Achmad Muchji(1996).MKDU Ilmu Budaya Dasar.Jakarta:Gunadarma

Senin, 23 Maret 2015

MANUSIA vs BUDAYA


Tema     : Kaitan Manusia dengan Kebudayaan

                Seperti yang telah saya bicarakan pada artikel sebelumnya, manusia merupakan makhluk sosial dengan segala kelebihannya dan dapat melakukan berbagai jenis aktivitas. Sedangkan Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. 

                Dari definisi di atas, dapat kita ketahui bahwa budaya sangat erat kaitannya dengan manusia. Karena budaya hanyalah suatu objek mati dan manusialah yang “menghidupkan” objek tersebut. Dengan kata lain, manusia juga berperan sebagai “perantara” berkembangnya suatu kebudayaan dalam masyarakat. Kebudayaan tidak hanya sebatas kesenian semata. Bahasa yang berkembang dalam suatu masyarakat juga merupakan kebudayaan. Namun, sebagian besar dari kebudayaan diturunkan secara oral dan tidak tertulis.



                Manusia memiliki peran penting dalam terbentuknya suatu kebudayaan. Selain manusia sebagai subjek atau pelaku kebudayaan, ada pula faktor-faktor lain seperti : Ilmu pengetahuan dan teknologi, trend yang sedang berkembang, dan lokasi atau lingkungan lahirnya kebudayaan tersebut, yang mempengaruhi adanya budaya baru dalam masyarakat tertentu.


                Hal yang paling penting dari hubungan antara manusia dengan kebudayaan adalah manusia harus menjaga kebudayaan yang telah ada dan menyaring kebudayaan asing yang mencoba masuk ke dalam lingkar kehidupan kita agar kebudayaan asli yang kita miliki tidak terbuang karena adanya kebudayaan asing.

Senin, 16 Maret 2015

MAKANAN UNTUK JIWA

Tema     : Hakekat Manusia

                Manusia, makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna ini memiliki sejuta sisi yang dapat dibicarakan. Manusia merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai komponen. Tubuh atau raga manusia merupakan bagian yang dapat kita lihat dan rasakan keberadaannya oleh panca indera kita. Namun, hidup matinya manusia ditentukan oleh satu komponen penting lainnya, yaitu Ruh / Jiwa.
                Semua orang pasti sudah mengetahui jika makanan merupakan kebutuhan primer untuk tubuh ini. Tanpa makanan dan minuman, manusia mungkin hanya kuat bertahan hidup selama tidak lebih dari 5 hari saja. Lebih dari itu, manusia bisa saja sudah tidak bernyawa karena tidak adanya asupan makanan ke dalam tubuh. Kalaupun ada yang kuat bertahan untuk tidak makan dan minum dalam 5 hari, pastilah keadaan tubuhnya sudah sangat lemas dan mungkin saja terserang berbagai penyakit karena lemahnya sistem imun yang menjaga kesehatan tubuh manusia. Itulah yang terjadi pada raga kita. Makanan untuk tubuh kita dapat ditemukan di bumi ini, mulai dari makanan yang berasal dari hewan maupun tumbuhan.

                Tidak hanya raga, jiwa kita juga membutuhkan makanan yang tentunya berbeda wujud dan jenisnya dengan makanan untuk tubuh kita. Makanan untuk jiwa kita berasal dari Tuhan YME. Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya merupakan salah satu cara untuk memb eri makan jiwa kita.Sebagai umat muslim, Allah SWT memerintahkan kita untuk mengerjakan sholat 5 waktu, seperti halnya memberi makan tubuh kita tiga kali sehari. Itu merupakan jumlah yang telah Allah SWT tentukan dalam hal kuantitas pemberian makan untuk jiwa kita.

 Tidak hanya tubuh kita yang dapat terserang penyakit bila kita tidak makan, jiwa kita juga akan terserang penyakit bila tidak diberikan makan. Jiwa kita akan berada dalam keadaan lemah, bila kita kurang memberikan makanan. Sama seperti tubuh kita yang membutuhkan suplemen makanan/nutrisi tambahan selain makanan pokok untuk dikonsumsi demi mendapatkan tubuh yang sehat dan bugar, jiwa kita juga membutuhkan suplemen tambahan untuk menjadikan jiwa kita lebih kuat. Suplemen itu bisa saja kita dapatkan dengan cara melakukan amalan-amalan sunnah yang disarankan Nabi Muhammad saw.

Kesimpulannya adalah kita sebagai manusia dan umat beragama janganlah hanya memikirkan kebutuhan makanan untuk fisik kita saja. Kebutuhan makanan untuk jiwa kita yang jauh lebih penting juga butuh kita perhatikan. Karena manusia yang bijak adalah manusia yang dapat berlaku adil dan seimbang dalam segala aspek kehidupannya.

Senin, 09 Maret 2015

MASIH ADAKAH HARAPAN ?

Tema     : Ilmu Budaya Dasar

                Ilmu Budaya Dasar merupakan salah satu disiplin ilmu yang mengajarkan tentang hubungan manusia dengan budayanya. Budaya disini tidak hanya yang biasa kita liat dan biasa kita sebut dengan kesenian, namun unsur-unsur lain dari kehidupan juga dipelajari hubungannya pada disiplin ilmu ini. Cinta kasih, keindahan,penderitaan, keadilan, dan harapan juga dipelajari terhadap hubungannya dengan manusia. Menurut Martiatmodjo dalam buku yang berjudul Ilmu Budaya Dasar, menyatakan bahwa Ilmu Budaya Dasar menyajikan bahan pendidikan yang mencerminkan keutuhan manusia dan membantu agar manusia dapat menjadi lebih manusiawi.
                Harapan berasal dari kata ‘Harap’ yang berarti keinginan akan sesuatu yang belum terwujud dan diinginkan suatu saat akan terjadi. Memiliki harapan atau mimpi merupakan kodrat kita sebagai manusia.Manusia memang diciptakan untuk selalu berharap. Manusia yang hidup tanpa harapan dapat dikatakan manusia itu sesungguhnya telah mati. Manusia yang selalu berharap menunjukkan manusia itu selalu berusaha menjadi lebih baik. Salah satu dari 5 kebutuhan/harapan manusia adalah: “Harapan untuk memperoleh status atau untuk dapat diterima dan diakui oleh lingkungan sekitar.”

                Dalam usaha memperoleh status di masyarakat, kita pastinya berusaha untuk menjadi manusia yang berguna untuk masyarakat sekitar. Kita akan berusaha memiliki “peran” dalam masyarakat, kita tidak mungkin hanya berpangku tangan dan berharap status sosial yang baik akan datang pada kita. Keberhasilan seseorang dapat dilihat dari status sosial yang ia terima dari masyarakat, status sosial yang baik tersebut tidak bisa ia buat sendiri tanpa diikuti dengan perilaku yang baik pula.
                Harapan merupakan sesuatu yang berbentuk abstrak, tidak terlihat, namun sangatlah besar manfaatnya. Dengan adanya harapan, kita dapat berusaha sekuat tenaga agar dapat mencapai harapan kita. Dengan kata lain, kita dituntut untuk menjadi pribadi yang optimis dan bekerja keras dalam usaha menggapai harapan kita. Pribadi yang mudah putus asa tidak akan menjadi pribadi yang sukses di kemudian hari.
                Harapan juga dapat menjadi sugesti untuk diri kita, bahwa kita dapat melakukan suatu hal yang mungkin kita anggap tidak mungkin bisa kita lakukan. Dengan adanya harapan, memori alam bawah sadar kita akan selalu mengingat harapan tersebut. Dengan begitu, tanpa kita sadari kita telah berdoa dan selalu berusaha agar harapan itu tercapai. Setelah kita mengetahui sisi lain “harapan”, sejenak kita bercermin dan bertanya pada diri kita  masing-masing, “Masih adakah harapan dalam diri ini?”
               
Daftar Pustaka :

Prasetya, Joko Tri.,dkk.1998. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rieka Cipta.

Selasa, 30 Desember 2014

Masyarakat Kota dan Masyarakat Desa

Masyarakat perkotaan sering disebut urban community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda dengan masyarakat pedesaan. Pengertian masyarakat perkotaan menurut para ahli :

1.           Wirth
Kota adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya. 

2.           Max Weber
Kota menurutnya, apabila penghuni setempatnya dapat memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal.

3.           Dwigth Sanderson
Kota ialah tempat yang berpenduduk sepuluh ribu orang atau lebih. Dari beberapa pendapat secara umum dapat dikatakan mempunyai ciri-ciri mendasar yang sama. Pengertian kota dapat dikenakan pada daerah atau lingkungan komunitas tertentu dengan tingkatan dalam struktur pemerintahan. 

Sedangkan yang dimaksud dengan desa menurut Sutardjo Kartodikusuma mengemukakan sebagai berikut: Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri.

Menurut Bintaro, desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi ,sosial, ekonomi, politik dan kultur yang terdapat ditempat itu (suatu daerah), dalam hubungan dan pengaruhnya secara timbal balik dengan daerah lain.

Sedang menurut Paul H. Landis desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri ciri sebagai berikut :
a) mempunyai pergaulan hidup yang saling kenal mengenal antara ribuan jiwa.
 b) Ada pertalian perasaan yang sama tentang kesukaan terhadap kebiasaan
 c) Cara berusaha (ekonomi)adalah agraris yang paling umum yang sangat dipengaruhi alam seperti : iklim,   keadaan alam ,kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris adalah bersifat sambilan.
       Berikut ini merupakan perbedaan masyarakat kota dan masyarakat desa :



          Jika mendengar kata “desa” tentu yang pertama kali terbayang oleh kita ada hamparan sawah yang luas nan hijau. Memang,seperti yang kita ketahui mayoritas pekerjaan masyarakat desa adalah bertani. Namun saat ini sudah banyak pula petani yang beralih profesi, tidak hanya karena minimnya lahan garapan, banyak lahan tani yang dialihfungsikan menjadi bangunan yang lebih menghasilkan, faktor lainnya adalah meningkatnya panganan impor yang beredar luas di pasaran.

STRATIFIKASI SOSIAL

      A.      PENGERTIAN PELAPISAN SOSIAL

       Pelapisan Sosial atau stratifikasi sosial ( berasal dari kata “statum”  yang berarti lapisan ) adalah lapisan yang terdapat di masyarakat. Stratafikasi masyarakat merupakan perbedaan yang terdapat di masyarakat dalam tingkat yang vertikal. Perbedaan secara vertical menyatakan bahwa di dalam masyarakat terdapat perbedaan tinggi/ rendah status (kedudukan) seseorang.

B.      DASAR UKURAN PELAPISAN SOSIAL


Dalam masyarakat, khususnya di Indonesia ukuran atau kriteria yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan (kelas sosial) tertentu adalah sebagai berikut:

1.       Ukuran Kekayaan
Kekayaan atau materi dapat dijadikan sebagai ukuran penempatan status seseorang dalam lapisan masyarakat. Oleh karenanya, orang yang memiliki harta benda berlimpah (kaya) akan lebih dihormati dan dihargai daripada orang miskin. Ukuran kekayaan ini dapat dilihat dari bentuk rumah modern, jenis pakaian yang dipakai, pemilikan sarana komunikasi dan transportasi, serta kebiasaan mengonsumsi barang-barang mewah.

2.       Ukuran Kekuasaan
Kekuasaan dipengaruhi oleh kedudukan atau posisi seseorang dalam masyarakat. Seorang yang memiliki kekuasaan dan wewenang besar akan menempati lapisan sosial atas, sebaliknya orang yang tidak mempunyai kekuasaan berada di lapisan bawah. Contoh: pimpinan perusahaan dengan karyawannya.


3.       Ukuran Keturunan
Ukuran keturunan terlepas dari ukuran kekayaan atau kekuasaan. Dalam hal ini keturunan berdasarkan golongan kebangsawanan atau kehormatan. Contoh: gelar Andi di masyarakat Bugis, Raden di masyarakat Jawa, dan Tengku di masyarakat Aceh. Kesemua gelar ini diperoleh berdasarkan kelahiran atau keturunan. Apabila seseorang berasal dari keluarga bangsawan secara otomatis orang tersebut menempati lapisan atas berdasarkan keturunannya.

4.       Ukuran Kepandaian atau Ilmu Pengetahuan
Kepandaian serta kemampuan menguasai ilmu pengetahuan dapat pula menjadi dasar dalam pelapisan sosial. Seseorang yang berpendidikan tinggi atau bergelar sarjana tentunya mempunyai status yang lebih tinggi. Sebagaimana orang yang menguasai ilmu pengetahuan akan menempati posisi yang paling tinggi dalam sistem pelapisan masyarakat. Contoh: profesor, doktor, dan lain lain.

Jumat, 31 Oktober 2014

Negara Kesatuan Republik Indonesia



a.      Dasar Hukum di Indonesia
Sebagai dasar negara, Pancasila merupakan suatu asas kerohanian yang dalam ilmu kenegaraan populer disebut sebagai dasar filsafat negara (pilisophisce gronslag). Dalam kedudukan ini Pancasila merupakan sumber nilai dan sumber norma dalam setiap aspek penyelenggaraan negara, termasuk dalam sumber tertib hukum di Indonesia, sehingga Pancasila merupakan sumber nilai, norma dan kaidah baik moral maupun hukum di Indonesia. Oleh karenanya, Pancasila merupakan sumber hukum negara baik yang tertulis maupun yang tak tertulis atau konvensi. 
Yaitu aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan negara. Untuk menyelediki hukum dasar suatu negara tidak cukup hanya menyelidiki pasal-pasal UUD nya saja, akan tetapi harus menyelidiki juga bagaimana  prakteknya dan suasana kebatinannya dari UUD itu.
Hukum dasar tertulis (UUD) merupakan kerangka dan tugas-tugas pokok dari badan-badan pemerintah suatu negara dalam menentukan mekanisme kerja badan-badan tersebut seperti ekslusif, yudikatif dan legislative.

Undang-Undang Dasar 1945 merupakan hukum dasar yang tertulis, kedudukan dan fungsi dari UUD 1945 merupakan pengikat bagi pemerintah, lembaga negara, lembaga masyarkat, warga negara Indonesia sebagai hukum dasar UUD 1945 memuat normat-norma atau aturan-aturan yang harus diataati dan dilaksanakan.
a.      Kedudukan dan Peran
Kedudukan (status) berarti tempat seseorang dalam suatu tempat tertentu sedangkan peran (role) merupakan aspek dinamis dari kedudukan (status). Dalam kehidupan di masyarakat, peranan diartikan sebagai perilaku yang diharapkan oleh pihak lain dalam melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan status yang dimilikinya. Jika seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, ia telah menjalankan suatu peranan. Tidak ada peranan tanpa kedudukan,dan tidak ada kedudukan tanpa peranan


                Setiap manusia yang masih hidup di muka bumi ini pasti memiliki kedudukan. Jenis kedudukan tersebutpun bermacam-macam. Di lingkungan keluarga contohnya,kedudukan seorang Ayah memiliki peranan sebagai pencari nafkah, kedudukan Ibu sebagai seseorang mengurus keluarga, dan kedudukan sebagai seorang anak yang memiliki peranan belajar dengan rajin dan harus bisa membahagiakan orangtua.

                Beda lingkungan, maka akan berbeda pula kedudukan dan peranan seseorang. Di lingkungan Negara, kedudukan pun dibagi-bagi lagi. Misalnya : kedudukan sebagai seorang presiden memiliki peranan untuk mengatur jalanannya pemerintahan, kedudukan polisi dan TNI memiliki peranan untuk menjaga keamanan dari sebuah Negara, adapula kedudukan kita,sebagai pemuda, yang memiliki kedudukan sebagai warga Negara berperan untuk selalu berusaha menjaga nama baik keluarga dan Negara, berperilaku sebagai masyarakat madani yang selalu taat dan patuh terhadap peraturan yang berlaku, dan belajar dengan baik agar dapat berpartisipasi dalam memajukan Negara kita ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Referensi :

YANG MUDA YANG BERKARYA


Well, rasanya sudah sering kita mendengar quotes tersebut dari seorang penggagas negeri kita ini. Yup, Ir. Soekarno, beliau memang seorang pemimpin yang selalu melahirkan kata-kata bijak nan bermakna.  Yaa, memang begitulah adanya, Pemuda sesungguhnya memiliki peran yang sangat besar untuk membangun negeri kita ini, Negara Kesatuan Repulik Indonesia. Namun, pemuda seperti apa yang dibutuhkan negeri ini?

Secara harfiah, Pemuda berarti individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan baik saat ini maupun masa datang.

Pemuda memanglah merupakan sumber daya manusia yang potensial. Pemuda dengan semangat juangn yang masih tinggi, fisik yang luar biasa kuat, dan yang selalu melahirkan ide-ide cemerlanglah yang dibutuhkan untuk membangun dan memajukan Negara Indonesia.

 Seiring dengan kemajuan jaman, peran seorang pemuda semakin penting dan dibutuhkan. Mari kita menjauh dari peran pemuda bagi bangsa dan Negara nya. Peranan seorang pemuda sudah dapat dilihat sejak dari lingkungan keluarga. Mengapa demikian? Seorang pemuda dengan segudang pengetahuan yang ia miliki, dapat menyalurkan ilmu mereka kepada orangtua, saudara, atau kerabat mereka. Dengan demikian bertambahlah ilmu pengetahuan keluarga mereka. Mereka dapat mengajarkan bagaimana cara menggunakan handphone, computer , dan juga internet kepada sanak saudara mereka yang masih “kudet” terhadap perkembangan IPTEK. Di sisi lain, seorang pemuda / remaja saat ini sudah dapat membantu perekonomian keluarga mereka. Mereka yang sudah tidak buta terhadap perkembangan teknologi dapat dengan mudah berbisnis tanpa harus mengganggu waktu  kuliah / kerja, mengeluarkan cost yang besar untuk menyewa tempat, memikirkan bagaimana cara mendapatkan pegawai / karyawan dan bagaimana cara menggaji karyawan mereka, dan lain-lain. Mereka yang ingin mencoba berbisnis dapat memulai dengan bisnis online shop hanya dengan bermodalkan handphone dan jejaring social, mereka dapat menjadi reseller suatu produk. Tanpa modal yang besar, mereka akan menghasilkan keuntungan yang “lumayan” untuk mengurangi beban orangtua dalam hal memberi uang saku mereka.

Namun, tidak banyak pula yang berlaku sebaliknya. Pemuda yang seharusnya berperan produktif dalam lingkungan bermasyarakat, justru menjadi musuh dalam masyarakat. Tidak sulit bagi kita untuk menemukan para pemuda yang mengahabiskan masa remaja mereka untuk hal-hal yang sangat merugikan masyarakat dan diri mereka sendiri. Pemuda yang melakukan kejahatan di internet ( cyber crime ) contohnya. Tindakan carding, hacking, cracking, phising, viruses, cybersquating, pornografi, perjudian online, transnational crime yang memanfaatkan IT sebagai tools, penyebaran informasi destruktif, seperti cara pembuatan dan penggunaan bom, telah menjadi bagian dari aktivitas pelaku kejahatan internet. Informasi-informasi dari internet yang seharusnya dipandang positif dapat menjadi boomerang bagi kita semua jika disalahgunakan oleh pera penjahat internet. Tidak sedikit pula pemuda lahyang menjadi dalang di balik seluruh kejahatan tersebut.

Pemuda yang tidak dapat menggunakan waktu remaja mereka biasanya akan menjurus pada hal-hal yang negatif. Narkoba, seks bebas, dan perampokkan merupakan “Lingkaran Setan” yang biasanya dicoba oleh para remaja.

Semua sisi negative tersebut memang tidak dapat dilepaskan dari peranan keluarga dan juga latar belakang pendidikan mereka. Keluarga memanglah sangat berperan penting dalam membentuk kepribadian seorang remaja yang sedang mencari jati diri. Remaja yang berada dalam lingkungan keluarga yang hangat, penuh perhatian dan kasih sayang sangatlah jarang untuk terjerumus dalam hal-hal negative tersebut. Pendidikan formal juga merupakan factor pendukung pembentukkan kepribadian remaja.

Di Indonesia, pendidikan formal itu sendiri belum bisa dikatakan baik. Karena pendidikan dengan kualitas bagus hanya terpusat di kota-kota besar. Kecanggihan internet yang dapat mendorong system pembelajaran di kota-kota besar, belum dapat disentuh oleh para pelajar yang berada di daerah-daerah terpencil yang tertinggal. Jangankan fasilitas internet, banyak pula daerah-daerah yang belum mendatkan pasokkan listrik. Sehingga jelas saja jika kualitas pendidikan mereka jauh tertinggal jika dibandingkan dengan daerah-daerah maju di ibu kota.

Ketidakseimbangan tersebut membuat mereka, para pemuda, yang berada di daerah-daerah terpencil merasa belum dapat berpartisipasi untuk memajukan Negara Indonesia. Namun, partisipasi tersebut sebenarnya bisa kita salurkan dalam bentuk yang beraneka ragam. Para remaja yang berada di kota-kota besar mungkin dapat dengan mudah membuat suatu teknologi terbaru yang dapat diperkenalkan pada ajang perlombaan di kancah internasional. Sementara bagi remaja yang tinggal di daerah yang jauh dari informasi perkembangan IPTEK, mereka dapat menggali dan melatih potensi yang ada pada diri mereka. Contohnya, mereka yang suka berolahraga dapat melatih kemampuan berlari mereka dan mengikuti perlombaan dari tingkat sekolah, kecamatan, provinsi, bahkan tingkat Indonesia. Sehingga mereka dapat dikenal dan mungkin saja diberikan pelatihan atlet oleh Negara supaya dapat menjadi pelari yang professional.

Terbukti, peran pemuda dalam mengharumkan nama Negara tidak hanya bisa dilakukan oleh mereka yang tinggal di kota besar, melainkan juga bisa dilakukan oleh mereka yang tinggal di daerah terpencil sekalipun.

Referensi :

Senin, 13 Oktober 2014

INDIVIDU, KELUARGA, DAN MASYARAKAT


1.       PENGERTIAN INDIVIDU, KELUARGA, DAN MASYARAKAT
a.       Individu
Individu berasal dari kata Latin, yaitu “ Individium” yang artinya tak terbagi. Menurut Dr. A. Lysen, kata individu merupakan sebutan yang dapat untuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Kata individu bukan berarti manusia secara keseluruhan yang tak dapat dibagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan.


b.      Keluarga
Menurut seorang ahli bernama Jhonson R Leny, istilah keluarga berasal dari bahasa sansekerta. Terbentuk dari kata kula dan warga, kulawarga berarti anggota atau kelompok kerabat. Jadi, keluarga bisa diartikan secara bahasa sebagai lingkungan dimana beberapa orang masih memiliki hubungan darah.

Sedangkan menurut Syarif Muhidin, “ Tidak ada satu pun lembaga kemasyarakatan yang lebih efektif di dalam membentuk kepribadian anak selain keluarga. Keluarga tidak hanya membentuk anak secara fisik tetapi juga berpengaruh secara psikologis”.

c.       Masyarakat
Secara umum, masyarakat didefinisikan sebagai sekumpulan manusia yang hidup bersama dan saling mempengaruhi serta bekerjasama untuk memperoleh kepentingan bersama.

Menurut Pieter L. Berger, masyarakat didefinisikan sebagai suatu keseluruhan yang kompleks diantara hubungan manusia yang sifatnya luas. Menurutnya, kompleks disini diartikan bahwa keseluruhan itu terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu kesatuan.

2.       Fungsi keluarga di dalam ruang lingkup masyarakat
Fungsi keluarga di dalam masyarakat secara khusus, antara lain :
-          Menjaga keharmonisan antarsesama;
-          Membuat stabilitas terhadap seluruh aspek kegiatan masyarakat;
-          Meciptakan suasana kebersamaan yang kuat;
-          Membantu sesama bagi yang memiliki kesulitan;
-          Mengatur perekonomian dalam masyarakat;
-          Memecahkan masalah secara bersama-sama.
Fungsi sebuah keluarga pada umumnya adalah untuk memberikan nilai-nilai dasar kehidupan bermasyarakat pada seorang anak, supaya anak tersebut dapat tumbuh dan berkembang secara normatif di tengah masyarakat.
3.       URBANISASI YANG TERJADI DI INDONESIA
Pertumbuhan atau pertambahan jumlah penduduk dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah urbanisasi, yang dimaksud urbanisasi adalah pergerakan/perpindahan penduduk dari suatu wilayang ke wilayah lainnya yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti perpindahan daerah kesuburan, penyakit, lapangan pekerjaan, ataupun faktor lainnya.
Urbanisasi yang sering terjadi di Indonesia, yakni urbanisasi  yang dilakukan oleh penduduk desa ke kota, dengan maksud untuk mencari pekerjaan yang lebih layak di kota. Hal ini disebebkan oleh terbatasnya lapangan kerja di desa, bias perkotaan atau alokasi sumber daya dalam hal ini aliran dana pembangunan tidak menyentuh pedesaan, serta masalah kemiskinan absolut yang sudah menjadi ciri kehidupan pedesaan.


       Dengan keterbatasan dan kekurangan yang ada di desa tersebut mengakibatkan masyarakat desa pergi ke kota untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Namun, hal ini justru menjadi masalah baru bagi kota tersebut, karena dengan makin tingginya arus urbanisasi terjadi tentunya kota akan menjadi semakin padat, kebutuhan akan ruang di kota akan menjadi semakin padat, kebutuhan akan ruang di kota akan menjadi hal yang sangat sulit untuk diatur.
Belum lagi ditambah dengan masalah-masalah lain yang muncul sebagai akibat dari arus urbanisasi yang tinggi, seperti :
-          Terjadinya  peningkatan jumlah penduduk di kota yang sudah tidak sesuai dengan daya dukung lahan di kota;
-          Bertambahnya pencari kerja di kota terutama yang unskill;
-          Makin banyaknya pemukiman kumuh di kota;
-          Tingginya angka kemiskinan dan pengangguran di kota;
-          Meningkatnya angka kriminalitas di kota.
Kegiatan urbanisasi ini dapat dikatakan berhasil apabila penduduk yang pindah dari desa ke kota mendapatkan kehidupan yang lebih baik di kota. Jika lapangan pekerjaan, pemukiman layak huni, pendidikan tinggi, dan kebutuhan pangan dapat dipenuhi dengan baik itu berarti seluruh tujuan melakukan urbanisasi telah berhasil. Namun sebaliknya, jika dengan melakukan urbanisasi masih banyak pengangguran, pemukiman kumuh, banyak anak yang putus sekolah, itu berarti kegiatan urbanisasi yang telah dilakukan orang-orang tersebut tiadalah arti.

Sources :

Jumat, 10 Oktober 2014

PERTUMBUHAN PENDUDUK




1.     Pertumbuhan Penduduk di Dunia Secara Umum

Pertumbuhan penduduk di dunia saat ini berada pada tahap “kritis”. Maksud dari kata “kritis” disini adalah terjadinya kenaikan jumlah penduduk di seluruh belahan dunia, atau sering kita sebut dengan kata “Ledakkan Penduduk”. Angka kelahiran meningkat secara drastis. Peningkatan jumlah penduduk itu pun telah menyebabkan beberapa jenis permasalahan sosial. Tingginya pengangguran, meningkatnya angka kriminalitas, dan kemiskinan merupakan beberapa dampak dari ledakan penduduk yang tengah terjadi saat ini.

Namun, tidak hanya itu permasalahan yang telah terjadi. Buruknya penyebaran penduduk juga menjadi faktor penting yang patut dibicarakan. Masyarakat berbondong-bondong pindah kesuatu lokasi yang mereka anggap dapat menghidupi diri juga keluarganya. Sehingga, kepadatan penduduk terpusat pada satu wilayah saja. Muncullah permasalahan lain pada wilayah padat penduduk tersebut.



  

2.     Pertumbuhan Penduduk di Asia

“Banyak Anak Banyak Rezeki”
Telah sering telinga kita mendengar desas-desus dari slogan tersebut. Hal inilah yang mungkin saja menjadi beban pemerintah dalam menanggulangi permasalahan pertumbuhan penduduk. Bahkan, mungkin masih banyak pula masyarakat yang beranggapan bahwa slogan itu 100% benar adanya.Karena memang, ada pula agama atau kepercayaan yang mempercayai bahwa anak merupakan sumber rezeki sehingga tidak boleh menghambat atau melakukan suatu cara untuk mengahalangi kehadirannya( dalam hal ini yang dimaksud menghalangi adalah program KB ). Padahal, jika dilihat dengan sudut pandang yang berbeda, kita dapat melihat bahwa dengan memiliki banyak anak tentu kita akan membutuhkan biaya hidup yang tidak sedikit pula.
Saat ini, di Indonesia sedang gencar menggalakkan suatu program pemerintah yang disebut dengan KB (Keluarga Berencana) dengan slogannya yang sangat khas yakni “ 2 anak lebih baik “.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dengan hanya memiliki 2 anak, kesempatan seorang anak untuk medapatkan kehidupan yang layak dan pendidikan yang tinggi akan menjadi lebih tinggi pula.
Selain dilihat dari jumlah anggota keluarga, pertumbuhan penduduk di Asia juga terjadi karena banyaknya penduduk luar benua Asia yang sengaja pindah ( bermigrasi ) ke Asia untuk mencari kerja. Banyaknya lapangan pekerjaan di Asia menyebabkan banyak orang yang tertarik untuk pindah ke Asia.
Namun, lagi-lagi karena terlalu banyaknya peduduk yang merapat ke Asia, sehingga tidak semua penduduk mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan. Karena, suatu perusahaan juga memiliki batas dalam proses recruitment tenaga kerja.
Ketidak-mampuan suatu perusahaan dalam merekrut seluruh penduduk untuk menjadi tenaga kerjanya menyebabkan sebagian dari mereka yang “kalah bersaing” menjadi seorang yang tidak mempunyai pekerjaan (Pengangguran). Karena keadaan tersebut, banyak kepala keluarga yang tidak dapat memenuhi kebutuhan keluarganya, sehingga muncullah masalah baru yakni kemiskinan. Kemiskinan membuat mereka harus memutar otak untuk mencari kebutuhan perut mereka, beberapa dari mereka menggunakan “cara pintas” untuk keluar dari permasalahan tersebut. Mencuri, merupakan “cara pintas” bagi mereka untuk dapat tetap menghidupi keluarganya. Bertambahlah masalah yang harus ditangani pemerintah yakni dalam masalah Kriminalitas.
Begitu banyak masalah yang muncul yang berawal dari pertumbuhan penduduk yang ekstrem.

3.     Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk

Dari penjabaran tentang pertumbuhan penduduk di atas, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan penduduk yang menyebabkan suatu wilayah menjadi sangat padat dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain :
           
a.      Desas-desus
Adanya anggapan “Banyak Anak Banyak Rezeki”




b.     Agama
Adanya kepercayaan bahwa haram hukumnya mengikuti program pembatasan jumlah anak.

c.      Program Pemerintah
Adanya program pemerintah dalam hal pembatasan jumlah anak, contohnya :Keluarga Berencana yang digalakkan oleh BKKBN.

d.     Migrasi
Banyaknya penduduk yang bermigrasi kesuatu wilayah untuk memperbaiki kualitas hidup.

e.      Peluang pekerjaan
Tingginya peluang pekerjaan pada suatu wilayah menyebabkan masyarakat berpindah kewilayah tersebut. Sehingga terjadi ketidak-merataan jumlah penduduk.

Copyright : Jehan Nabilah